Minggu, 06 Maret 2011

Kuwait Berikan Amnesti Seribu TKI

| 0 komentar
JAKARTA - Moratorium atau penghentian sementara pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Kuwait ternyata mendapat tanggapan positif dari negara tersebut. Menyusul dibekukannya kerjasama ketenagakerjaan, sekitar 1.000 TKI ilegal di Kuwait akan dipulangkan ke Tanah Air. Berbeda dengan Arab Saudi, Kuwait justru memberikan amnesti atau pengampunan bagi para TKI itu untuk dipulangkan tanpa harus membayar denda kepada negara.

"Memang ada pemutihan dan para TKI disana diberikan kesempatan mendapat pengampunan dari pemerintah setempat," kata Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat di Jakarta Sabtu (5/3).


Amnesti oleh pemerintah Kuwait itu diberikan bagi TKI ilegal yang tidak tersangkut kasus kriminal. Kebijakan Kuwait tersebut menurut Jumhur sangat meringankan TKI dan diapresiasi tinggi oleh pemerintah. Lazimnya denda yang dibebankan kepada TKI ilegal mencapai Rp10 juta per orang. Pengampunan itu tidak hanya diberikan kepada TKI saja melainkan juga kepada semua pekerja asing. "Amnesti kepada pekerja asing untuk kembali ke negara masing-masing tanpa denda mulai awal Maret hingga 30 Juni tahun ini," papar Jumhur.


Saat ini tercatat ada 38.027 WNI di Kuwait yang 90 persennya adalah TKI di sektor informal atau penata laksana rumah tangga. Jumhur menyebutkan, para TKI yang berada di penampungan KBRI Kuwait memang sudah lama menjadi ilegal atau "overstayers". Mereka melanggar keimigrasian karena melampaui batas izin tinggal atau menjadi TKI tidak berdokumen lengkap sehingga terkena denda yang cukup tinggi bila tidak ada amnesti dari pemerintah Kuwait. Karena berstatus moratorium maka pemulangan TKI itu menjadi tanggungjawab majikan atau agensi penempatan TKI .


Di sisi lain, pengiriman TKI ke Arab Saudi sejak 2011 ikut menurun tajam. Penurunan kini mencapai 40 persen dari tahun lalu. Jumhur menjelaskan, penurunan itu bukan karena minat, tapi karena pengetatan pengiriman. Dampaknya, dari 20 ribu tenaga kerja per bulan yang dikirim ke Saudi, kini hanya sekitar 10 ribu per bulan. "Itu masih mungkin untuk ditekan lagi," tegasnya.


Khusus untu Arab Saudi, pemerintah memperketat rekrutmen yang hanya bisa dilakukan melalui dinas ketenakerjaan setempat. Calon majikan juga harus mendaftar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Syarat lain yang harus dipenuhi adalah pelatihan 200 jam dan persyaratan tentang standar alamat majikan yang harus jelas. "Jika satu tahap tidak lolos, maka calon TKI tak bisa memenuhi tahapan selanjutnya," kata dia.


Pengetatan ini juga terkait dengan desakan kuat untuk menghentikan pengiriman TKI ke Saudi sejak mencuatnya kasus penyiksaan terhadap Sumiati dan Kikim Komalasari. Kasus penyiksaan dan kekerasan terhadap keduanya membuat publik marah dan mendesak pemerintah untuk menghentikan pengiriman TKI ke Saudi. Apalagi kini seorang TKI asal Jawa Barat Darsem Binti Dawud Tawar juga sedang berperkara dan mendapat vonis hukuman pancung karena membunuh majikannya di Arab Saudi.


Darsem nekat demi membela diri, karena majikannya itu hendak membunuh dia. Untungnya, Darsem lolos dari eksekusi mati setelah mendapat pengampunan dari keluarga korban.Namun, ia harus membayar uang diyat (ganti rugi atau santunan) sebesar 2 juta Riyal, atau sekitar Rp4,7 miliar yang harus dicicil dalam jangka waktu enam bulan.
(zul).
 
Sumber:jpnn.com
LANJUT

Sabtu, 05 Maret 2011

Mahasiswi UGM Temukan Vaksin Flu Burung Dari Mahkota Dewa

| 0 komentar
Berkat penemuannya, mahasiswi tingkat akhir UGM ini meraih dua predikat sekaligus dana dalam lomba penelitia yang dilakukan Masyarakat Ilmuwan dan Tehnologi Indonesia (MIPI) di Bogor, akhir Januari 2011 lalu. Dua predikat tersebut adalah juara satu lomba penelitian dan karya penelitian terbaik.

"Tumbuhan Mahkota Dewa banyak terdapat di berbagai wilayah di DIY, bahkan melimpah. Selama ini vaksin flu burung semuanya berbahan kimia. Selain mahal, itu juga berdampak buruk pada unggas yang divaksin, sehingga saya berupaya menciptakan temuan vaksin dari bahan herbal," paparnya saaat berbincang di UGM, Kamis (3/3).

Menurutnya, ekstrak buah Mahkota Dewa mengandung senyawa saponin yang berfungsi untuk menghambat perkembangan virus flu burung. Senyawa ini dalam dosis yang tepat bisa menghambat virus mencapai 87 persen. "Melalui beberapakali penelitian, akhirnya saya temukan dosis yang tepat untuk menghambat virus tersebut secara efektif dalam diri unggas," tandasnya.

Kadar saponin yang dibutuhkan untuk menghambat perkembangan virus tersebut adalah 10 miugram/mililiter (ml). Vaksin yang digunakan untuk disuntikkan ke unggas sendiri hanya 0,2 ml./dep.
LANJUT

Saat Tepat Berkontemplasi

| 0 komentar
SEJAK kemarin umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi untuk menyambut tahun baru Saka. Hari Raya Nyepi merupakan kesempatan untuk melakukan kontemplasi, berhenti sejenak untuk bercermin tentang apa yang telah kita lakukan setahun terakhir ini.

Kita sering larut dalam kehidupan duniawi yang penuh dengan godaan. Konsumtivisme dan konsumerisme sering kali menyeret kita ke dalam kehidupan yang hedonistis.

Sering kita terseret oleh nafsu kekuasaan yang membuat kita lupa akan esensi kekuasaan itu. Kekuasaan dianggap sebagai hak istimewa yang dibagi di antara para elite politik, bukan untuk menyejahterakan rakyat.

Sikap mentang-mentang yang begitu kuat pada diri kita, sering membuat kita berlaku tidak adil. Bahkan tidak jarang kita menindas mereka yang lemah, kita gunakan kekerasan untuk menganiaya mereka yang tidak berdaya.

Dengan melakukan catur berata penyepian, umat Hindu selama satu hari penuh memutuskan hubungan dengan urusan duniawi. Mereka tidak pergi bekerja, mereka tidak melakukan perjalanan, tidak mendengarkan hiburan. Sambil berpuasa, mereka mencoba berkomunikasi dengan Yang Maha Pencipta.

Kita semua dimintakan untuk setiap kali melakukan refleksi diri. Ketika kita berdoa, sejenak kita melupakan urusan dunia dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Kita harus sadar bahwa kita bukan siapa-siapa dan kita membutuhkan pertolongan dan petunjuk-Nya untuk bisa menjalani hidup ini dengan baik.

Segala amarah, kerakusan, ketamakan sirna ketika kita bertemu dengan-Nya. Rasa kemanusiaan kita akan tumbuh begitu selesai kita melakukan kontemplasi, berkaca diri tentang siapa sebenarnya kita ini.

Kehidupan dunia ini akan lebih baik apabila peduli terhadap sesama. Kita tidak melihat perbedaannya, tetapi melihat persamaannya. Kalau ada yang keliru di antara kita diingatkan tanpa harus dimarahi apalagi sampai dipukuli.

Ketenangan di Hari Raya Nyepi itulah yang kita harapkan. Dengan ketenangan maka kita akan menjalankan tugas keseharian lebih baik. Hubungan di antara kita akan dijauhi dari ketegangan.

Sekarang ini kita harus mau mengakui kalau kita telah menjadi pribadi yang cepat marah. Sikap ringan tangan bukan dilakukan untuk hal yang positif, tetapi cenderung yang negatif. Ringan tangan bukan dalam sigap dalam bekerja, tetapi sigap dalam menyakiti sesama.

Kita semua tahu bahwa kekerasan pasti melahirkan kekerasan. Sebab, setiap orang memiliki batasnya. Ketika mereka terus menerus ditekan, satu saat pasti mereka akan bangkit untuk menunjukkan harga dirinya sebagai manusia.

Sikap saling asah, saling asuh itulah yang kita sangat dambakan. Apalagi bagi kita bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama. Semua agama mengajarkan kita untuk menyayangi dan menghormati citpaan-Nya. Tidak ada hak sedikit pun dari kita untuk tidak menjalankan perintah-Nya.

Negeri ini membutuhkan kehidupan bangsa yang lebih rukun. Kita akan bisa mencapai kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik apabila mampu membangun kebersamaan. Tidak membuang-buang energi hanya untuk berkelahi sendiri.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa hal itu tidak bisa kita lakukan, karena kita mempunyai sejarah sikap toleransi yang tinggi. Kita menjadi bangsa yang rukun dan damai di masa lalu karena memiliki pemimpin yang bisa menjadi contoh bagaimana hidup damai berdampingi.

Sikap-sikap yang inklusif dengan wawasan yang luas membuat kita tidak berpikiran picik. Semua itu terjadi karena pemimpin kita di masa lalu memiliki pikiran yang modern dan bergaul secara luas. Tidak pernah mereka membawa perbedaan menjadi persoalan personal.

Kita harus bisa membangun kembali masa-masa indah seperti itu. Kuncinya adalah kemauan kita bersama untuk duduk berdampingi dan membuang jauh perbedaan. Kita harus membangun manusia yang berkualitas dan itu hanya bisa dilakukan melalui pendidikan.

Hari Raya Nyepi merupakan kesempatan bagi kita untuk mencari jalan menata kembali kehidupan masa lalu yang damai. Kita bersama yang harus melakukan itu.

Sumber:metrotvnews.
LANJUT